Beranda/Artikel/Mengapa Kuota HGBT 80 Persen Penting bagi Keramik?
Energi

Mengapa Kuota HGBT 80 Persen Penting bagi Keramik?

Asaki mendorong kuota HGBT industri keramik kembali menjadi 80 persen agar biaya energi terkendali, daya saing pulih, dan risiko PHK menurun. Dengan harga LNG turun menjadi 13 dollar AS per MMBTU, sektor keramik melihat peluang ekspansi Rp12 triliun, tambahan kapasitas 80 juta meter persegi, dan penyerapan 6.000 pekerja baru.

Jona Wilder
30 Juni 2026 · 6 min read
0 pembaca
Mengapa Kuota HGBT 80 Persen Penting bagi Keramik?

Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan merupakan saran investasi. Semua keputusan investasi tetap menjadi tanggung jawab pembaca masing-masing.

Kuota HGBT 80 Persen Dinilai Krusial bagi Daya Tahan Industri Keramik Nasional

Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia atau Asaki mendorong pemerintah mengembalikan porsi Harga Gas Bumi Tertentu atau HGBT menjadi 80 persen bagi industri keramik. Usulan tersebut dinilai penting karena gas merupakan komponen biaya utama dalam proses produksi keramik, mulai dari pembakaran, pengeringan, hingga menjaga stabilitas kualitas produk. Tanpa akses energi yang kompetitif, produsen domestik berisiko kehilangan ruang bersaing, terutama saat pasar dalam negeri terus dibanjiri produk impor berharga rendah dari China dan India.

Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto, menyatakan bahwa penambahan kuota HGBT bukan hanya kebutuhan sektoral, melainkan bagian dari strategi menjaga kelangsungan industri manufaktur nasional. Menurutnya, porsi HGBT yang lebih besar dapat memperkuat ketahanan industri keramik, menekan risiko pemutusan hubungan kerja, serta menciptakan efek berganda bagi perekonomian. Efek tersebut muncul melalui keberlanjutan produksi, stabilitas penyerapan tenaga kerja, aktivitas rantai pasok bahan baku, distribusi, konstruksi, hingga potensi investasi baru.

Gas Mahal Menekan Struktur Biaya Produksi

Industri keramik tergolong sektor padat energi. Ketika harga liquefied natural gas atau LNG meningkat, tekanan langsung terasa pada biaya produksi. Asaki mencatat bahwa dalam periode kenaikan harga LNG, komponen energi dapat menyerap hingga sekitar 50 persen dari total biaya produksi keramik. Angka tersebut menunjukkan betapa sensitifnya sektor ini terhadap perubahan harga gas. Kenaikan biaya energi tidak selalu dapat langsung dialihkan ke harga jual karena produsen domestik harus berhadapan dengan produk impor yang kerap masuk dengan harga lebih kompetitif.

Dalam kondisi demikian, margin usaha menyempit. Produsen dipaksa memilih antara menaikkan harga, mengurangi produksi, menunda ekspansi, atau melakukan efisiensi yang dapat berdampak pada tenaga kerja. Karena itu, kebijakan penurunan harga LNG dari 20 dollar AS menjadi 13 dollar AS per Metric Million British Thermal Unit atau MMBTU diapresiasi oleh pelaku industri. Penurunan tersebut memberi ruang napas bagi pabrikan keramik karena biaya energi diperkirakan dapat turun menjadi sekitar 38-40 persen dari total biaya produksi. Meski belum sepenuhnya ideal, perubahan ini dianggap sebagai sinyal positif bagi kepastian usaha.

HGBT → Daya Saing, Anti-PHK, Investasi

Asaki menilai kebijakan energi yang lebih terjangkau dapat menjaga daya saing industri nasional. Dalam konteks keramik, daya saing tidak hanya ditentukan oleh desain, kapasitas produksi, atau teknologi pabrik, tetapi juga oleh biaya input utama. Jika harga gas dalam negeri tidak kompetitif, produk lokal akan sulit menandingi harga barang impor. Situasi ini menjadi lebih berat saat produk dari China dan India terus memberikan tekanan di pasar domestik. Kedua negara tersebut dikenal memiliki skala produksi besar, rantai pasok kuat, serta kemampuan menekan harga jual.

Dengan kuota HGBT yang ditambah menjadi 80 persen, industri keramik diharapkan memperoleh kepastian biaya energi dalam skala memadai. Kepastian ini penting karena perusahaan perlu menyusun rencana produksi, kontrak penjualan, pengadaan bahan baku, dan keputusan investasi berdasarkan proyeksi biaya yang relatif stabil. Tanpa kepastian pasokan dan harga gas, perusahaan cenderung menahan ekspansi. Sebaliknya, jika biaya energi terkendali, pabrik dapat meningkatkan utilisasi, mempertahankan pekerja, bahkan membuka peluang perekrutan baru.

Risiko PHK Menjadi Perhatian Utama

Ancaman pemutusan hubungan kerja menjadi salah satu alasan utama Asaki meminta penguatan kebijakan HGBT. Ketika biaya produksi melonjak dan penjualan tertekan, perusahaan biasanya mulai melakukan penghematan. Dalam industri padat karya dan padat energi seperti keramik, tekanan berkepanjangan dapat berujung pada pengurangan shift, penghentian lini produksi tertentu, atau PHK. Karena itu, penurunan harga LNG dan perluasan kuota HGBT dipandang sebagai instrumen pencegahan agar perusahaan tidak mengambil langkah drastis.

Edy menegaskan bahwa kebijakan gas yang lebih terjangkau memberikan kepastian bagi dunia usaha, menjaga daya saing industri nasional, serta melindungi keberlangsungan lapangan kerja. Pernyataan tersebut mencerminkan posisi industri yang membutuhkan dukungan kebijakan lintas sektor. Energi murah saja tidak cukup apabila tidak disertai kepastian pasokan. Sebaliknya, pasokan tersedia tetapi harga terlalu mahal juga tidak menyelesaikan persoalan. Kombinasi harga kompetitif, kuota memadai, dan distribusi konsisten menjadi kunci agar manfaat kebijakan benar-benar terasa di tingkat pabrik.

Peluang Ekspansi Rp12 Triliun

Selain berfungsi sebagai bantalan terhadap tekanan biaya, kebijakan HGBT juga dinilai mampu membuka peluang ekspansi industri keramik pada periode 2025-2029. Asaki menyebut adanya rencana penambahan kapasitas produksi sekitar 80 juta meter persegi. Rencana tersebut diperkirakan membutuhkan investasi hingga Rp12 triliun dan berpotensi menyerap sekitar 6.000 tenaga kerja baru. Angka ini menunjukkan bahwa kebijakan gas bukan hanya berhubungan dengan struktur biaya jangka pendek, tetapi juga menentukan arah investasi manufaktur dalam beberapa tahun ke depan.

Ekspansi kapasitas akan berdampak pada banyak sektor pendukung. Pembangunan fasilitas produksi baru membutuhkan jasa konstruksi, mesin, logistik, bahan baku, kemasan, perawatan pabrik, serta jaringan distribusi. Setelah pabrik beroperasi, dampaknya meluas ke pemasok material, transportasi, pergudangan, ritel bahan bangunan, dan proyek properti. Karena itu, Asaki menyebut kebijakan HGBT memiliki efek berganda. Ketika industri keramik tumbuh, manfaatnya tidak berhenti pada produsen, tetapi bergerak ke ekosistem ekonomi yang lebih luas.

Tekanan Impor China dan India

Persaingan dengan produk China dan India menjadi latar penting dalam permintaan penambahan kuota HGBT. Produk keramik impor dari negara berskala manufaktur besar sering memiliki keunggulan harga. Jika produsen Indonesia harus membeli energi dengan harga lebih tinggi, ketimpangan biaya produksi akan melebar. Akibatnya, produk lokal dapat kehilangan pangsa pasar di negeri sendiri. Kondisi tersebut berpotensi melemahkan utilisasi pabrik, menurunkan pendapatan perusahaan, dan mengurangi kemampuan industri untuk berinvestasi dalam teknologi maupun inovasi desain.

Karena itu, perlindungan daya saing tidak selalu berarti pembatasan impor semata. Salah satu cara paling mendasar adalah memastikan produsen domestik memperoleh input produksi dengan harga yang wajar. HGBT menjadi instrumen strategis karena menyasar faktor biaya yang sangat menentukan. Dengan harga gas yang lebih kompetitif, industri keramik dapat memperbaiki struktur biaya, menjaga harga jual tetap rasional, dan mempertahankan kualitas produk. Kebijakan ini juga dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok regional, terutama jika kapasitas produksi bertambah dan pasar ekspor ikut dikembangkan.

Kepastian Kebijakan Menjadi Penentu

Bagi pelaku industri, kepastian kebijakan sama pentingnya dengan besaran harga. Investasi Rp12 triliun tidak dapat berjalan hanya berdasarkan sinyal jangka pendek. Perusahaan membutuhkan kepastian bahwa pasokan gas tersedia, harga dapat diprediksi, dan kuota HGBT cukup untuk menopang operasional pabrik. Jika kebijakan berubah-ubah, risiko investasi meningkat. Investor akan lebih berhati-hati, ekspansi tertunda, dan peluang penciptaan lapangan kerja baru ikut melemah.

Dalam konteks ini, permintaan Asaki agar kuota HGBT dikembalikan menjadi 80 persen dapat dibaca sebagai upaya menciptakan fondasi industri yang lebih stabil. Penurunan harga LNG dari 20 dollar AS menjadi 13 dollar AS per MMBTU sudah memberi perbaikan awal. Namun, jika porsi gas berharga kompetitif belum memadai, manfaatnya tidak maksimal. Kuota yang lebih besar memungkinkan lebih banyak kebutuhan energi pabrik dipenuhi dengan harga yang sesuai daya saing industri.

Momentum Menata Ulang Industri Manufaktur

Kebijakan gas untuk industri keramik juga berkaitan dengan agenda lebih luas: memperkuat manufaktur nasional. Selama ini, sektor manufaktur menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi, penciptaan kerja, dan peningkatan nilai tambah. Namun, manufaktur membutuhkan ekosistem biaya yang efisien agar mampu bersaing. Energi, logistik, bahan baku, pembiayaan, dan regulasi harus bergerak searah. Jika salah satu komponen terlalu mahal, seluruh rantai produksi ikut terganggu.

Industri keramik memiliki posisi strategis karena berkaitan erat dengan pembangunan perumahan, properti komersial, infrastruktur, dan renovasi rumah tangga. Permintaan keramik biasanya mengikuti aktivitas konstruksi. Dengan biaya energi yang lebih terkendali, produsen dapat merespons permintaan pasar secara lebih baik. Sebaliknya, jika biaya tinggi menekan produksi, pasar domestik berpotensi semakin bergantung pada impor. Ketergantungan tersebut dapat mengurangi nilai tambah dalam negeri dan melemahkan basis industri nasional.

Kesimpulan: Kuota HGBT 80 Persen sebagai Jangkar Industri

Usulan penambahan kuota HGBT menjadi 80 persen mencerminkan kebutuhan mendesak industri keramik terhadap energi yang terjangkau, stabil, dan cukup. Penurunan harga LNG dari 20 dollar AS menjadi 13 dollar AS per MMBTU telah menjadi langkah positif karena mampu menurunkan tekanan biaya energi dari sekitar 50 persen menjadi 38-40 persen dari total biaya produksi. Namun, industri menilai porsi HGBT yang lebih besar tetap diperlukan agar manfaat kebijakan terasa luas dan berkelanjutan.

Jika diterapkan konsisten, kebijakan tersebut berpotensi menahan gelombang PHK, memperkuat daya saing melawan produk impor China dan India, serta membuka jalan bagi ekspansi kapasitas 80 juta meter persegi pada 2025-2029. Dengan proyeksi investasi Rp12 triliun dan potensi penciptaan 6.000 lapangan kerja baru, HGBT bukan sekadar subsidi harga gas, melainkan instrumen industrialisasi. Gas kompetitif → produksi bertahan. Kuota memadai → investasi bergerak. Kepastian pasokan → tenaga kerja terlindungi.

#hgbt#industri keramik#harga gas#asaki#biaya produksi#manufaktur nasional#produk impor#ketahanan industri
Suka artikelnya?
Jona Wilder
Tentang penulis
Jona Wilder

Penulis konten teknologi dan gaya hidup Indonesia. Berpengalaman 5+ tahun di dunia content writing dan digital media.

Semua artikel dari Jona Wilder

Bacaan terkait

Jelajahi semua