Beranda/Artikel/Apakah Akuntan Siap Menghadapi AI di Ruang Audit?
Teknologi

Apakah Akuntan Siap Menghadapi AI di Ruang Audit?

Singapura menyiapkan 60.000 profesional akuntansi dan keuangan untuk menggunakan AI melalui program nasional gratis AIxAccountancy. Inisiatif ini menandai pergeseran besar: profesi akuntansi didorong bergerak dari pekerjaan rutin menuju analisis, tata kelola, dan keputusan strategis berbasis teknologi.

Rizki Pratama
Rizki Pratama
5 Juli 2026 · 6 min read
0 pembaca
Apakah Akuntan Siap Menghadapi AI di Ruang Audit?

Apakah Profesi Akuntansi Siap Ketika AI Masuk ke Ruang Audit?

Singapura sedang menguji satu pertanyaan penting bagi masa depan tenaga kerja profesional: jika kecerdasan buatan dapat membaca data, menyusun ringkasan, mendeteksi anomali, bahkan membantu menghitung pajak, lalu bagaimana peran akuntan, auditor, dan analis keuangan harus berubah? Jawabannya mulai dibentuk melalui program nasional AIxAccountancy, sebuah inisiatif pelatihan gratis yang menargetkan 60.000 profesional akuntansi dan keuangan dalam tiga tahun ke depan. Mereka akan menjadi kelompok awal dari sasaran lebih besar pemerintah, yakni membangun 100.000 pekerja yang fasih menggunakan AI sesuai bidang kerja masing-masing pada 2029.

Program ini diumumkan dalam konteks dorongan nasional yang lebih luas untuk menjadikan AI bukan sekadar alat teknis milik insinyur perangkat lunak, melainkan kemampuan dasar lintas profesi. Dalam pernyataan pada 3 Juli, Infocomm Media Development Authority dan Institute of Singapore Chartered Accountants menjelaskan bahwa pelatihan akan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama berfokus pada fondasi penggunaan alat AI populer seperti ChatGPT, Claude, dan Copilot. Tahap berikutnya bergerak lebih spesifik: bagaimana AI dipakai dalam akuntansi, audit, perpajakan, keuangan, penganggaran, peramalan, serta analisis bisnis.

Mengapa ini penting? Karena pekerjaan akuntansi selama ini sangat bergantung pada ketelitian, dokumentasi, pemeriksaan data, dan proses berulang. Bagian-bagian tersebut kini menjadi sasaran utama otomatisasi. AI dapat membantu menelusuri pola mencurigakan dalam transaksi, mempercepat analisis laporan keuangan mentah, menyusun rancangan temuan audit, hingga membangun chatbot akuntansi yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Dalam praktiknya, ini bukan hanya soal efisiensi. Ini menyangkut perubahan nilai profesi: dari sekadar mengolah angka menuju memberi penilaian, interpretasi, dan keputusan berbasis konteks.

Menteri Kedua Keuangan dan Pembangunan Nasional Singapura, Indranee Rajah, menyampaikan dalam jamuan tahunan ISCA bahwa inisiatif ini krusial karena perubahan di bidang AI berlangsung sangat cepat. Menurutnya, pelatihan tersebut akan membantu profesional meninggalkan sebagian pekerjaan rutin dan lebih berfokus pada tugas yang membutuhkan pertimbangan, analisis, serta pengambilan keputusan. Pernyataan ini mencerminkan arah kebijakan yang jelas: pemerintah tidak ingin profesi non-teknologi tertinggal oleh gelombang AI, tetapi juga tidak ingin adopsi teknologi berlangsung tanpa kesiapan keterampilan.

Desain program juga memperlihatkan upaya menjembatani realitas pekerja profesional. Kursus disiapkan secara daring agar dapat diikuti oleh peserta yang memiliki jadwal padat, baik karena pekerjaan maupun komitmen pribadi. Setelah menyelesaikan pelatihan, peserta akan memperoleh sertifikat dan lencana digital yang dapat diverifikasi, disebut tahan manipulasi, serta dapat dibagikan di platform profesional seperti LinkedIn. Bagi pemberi kerja, kredensial semacam ini dapat menjadi sinyal bahwa seorang karyawan bukan hanya pernah mendengar tentang AI, tetapi memiliki kemampuan terstruktur untuk menggunakannya dalam pekerjaan.

Namun, pertanyaan yang lebih besar ialah apa yang terjadi setelah pekerja memahami alatnya. Untuk profesional akuntansi yang sudah berada atau akan masuk ke posisi manajerial, tersedia modul lanjutan mengenai adopsi AI yang bertanggung jawab serta transformasi AI di tingkat firma. Bagian ini penting karena risiko AI tidak berhenti pada keterampilan penggunaan. Firma harus memahami tata kelola data, akurasi keluaran, keamanan informasi klien, bias model, pertanggungjawaban keputusan, serta batas antara bantuan mesin dan penilaian profesional manusia. Dalam audit, kesalahan kecil dapat berujung pada konsekuensi besar; karena itu, AI perlu diposisikan sebagai penguat analisis, bukan pengganti akuntabilitas.

Minat pasar tampaknya sudah kuat sebelum program resmi berjalan. IMDA dan ISCA menyebut lebih dari 20.000 orang dari sektor publik, swasta, termasuk mahasiswa perguruan tinggi, telah menyatakan ketertarikan. Program ini gratis bagi warga negara Singapura dan penduduk tetap yang bekerja di bidang akuntansi dan keuangan, anggota ISCA, serta mahasiswa dari institusi pendidikan tinggi lokal. Skema ini memperlihatkan bahwa negara berusaha memperbesar akses sejak dini, dari mahasiswa sampai praktisi aktif, sehingga rantai talenta tidak hanya diperbarui dari atas, tetapi juga dari bawah.

Dari Deteksi Fraud sampai Chatbot Akuntansi

Materi lanjutan AIxAccountancy tidak berhenti pada pengenalan aplikasi umum. Peserta akan diajarkan membangun atau menggunakan solusi AI untuk kebutuhan yang lebih dekat dengan pekerjaan harian, seperti deteksi kecurangan, perhitungan pajak, otomatisasi analisis anggaran, proyeksi bisnis, dan pengembangan chatbot khusus akuntansi. Dalam konteks audit, AI dapat mempercepat pemeriksaan dataset besar yang sebelumnya memakan waktu panjang. Dalam konteks perpajakan, AI dapat membantu menyusun simulasi atau memeriksa konsistensi perhitungan. Dalam konteks manajemen, AI dapat mengubah data historis menjadi dasar skenario bisnis.

Contoh dari sektor swasta menunjukkan arah perubahan itu. Sekitar 250 karyawan firma jasa profesional PKF-CAP disebut tertarik mengikuti program. Perusahaan tersebut telah menggunakan alat seperti Microsoft Copilot Cowork agent untuk pekerjaan administratif, termasuk menyusun draf surel klien secara otonom. Alat yang sama juga dipakai untuk mengolah angka dari laporan keuangan klien dan menghasilkan laporan yang menandai tren tidak biasa, misalnya dalam situasi merger dan akuisisi. Direktur pelaksana Lee Eng Kian menjelaskan bahwa ketika data sangat banyak, pekerjaan semacam ini dapat memakan waktu dan membuat fokus mudah terpecah, terutama ketika jumlah laporan dalam satu audit meningkat.

Harapan perusahaan seperti PKF-CAP bukan hanya agar karyawan mampu memberi perintah kepada chatbot, tetapi agar mereka dapat memanfaatkan agen AI yang bekerja lebih mandiri tanpa instruksi terus-menerus. Di sinilah batas baru produktivitas muncul. Jika AI hanya dipakai untuk mempercepat pengetikan, dampaknya terbatas. Jika AI dapat membantu memindai ketidakwajaran, menyusun ringkasan risiko, dan menyiapkan bahan keputusan, maka model kerja firma profesional dapat berubah lebih mendasar. Jam kerja dapat dialihkan dari pemeriksaan mekanis menuju diskusi nilai, risiko, dan strategi klien.

Keterampilan Hijau: Agenda Paralel yang Tidak Kalah Mendesak

Pada hari yang sama, daftar kursus dalam program SkillsFuture Green Workplace juga mulai tersedia. Fokus awalnya adalah pelaporan keberlanjutan, dengan biaya kursus yang disubsidi hingga 90 persen. Kursus tersebut dikurasi bersama oleh Accounting and Corporate Regulatory Authority serta Skills and Workforce Development Agency. Pelaporan keberlanjutan mengacu pada pengungkapan kinerja dan dampak lingkungan, sosial, serta tata kelola atau ESG suatu organisasi.

Agenda ini berkaitan erat dengan profesi akuntansi. Di kawasan regional, investor, regulator, dan mitra rantai pasok semakin menuntut pelaporan keberlanjutan yang kredibel. Artinya, akuntan masa depan tidak hanya diminta memahami angka laba-rugi, tetapi juga emisi, dampak sosial, tata kelola, serta kualitas pengungkapan non-keuangan. Jika AI membantu mempercepat analisis data, keterampilan keberlanjutan membantu memastikan apa yang dianalisis relevan dengan tuntutan pasar modal dan regulasi baru. Kombinasi keduanya dapat membentuk profil profesional keuangan yang lebih strategis.

Apa yang Terjadi Berikutnya?

Langkah Singapura menunjukkan pola yang mungkin diikuti banyak negara: pelatihan AI tidak lagi diposisikan sebagai pilihan tambahan, melainkan infrastruktur daya saing nasional. Akuntansi dan keuangan menjadi titik awal yang masuk akal karena kedua bidang ini padat data, sangat terstruktur, dan memiliki kebutuhan tinggi terhadap akurasi. Namun, keberhasilan program akan ditentukan oleh beberapa faktor: kualitas kurikulum, relevansi kasus praktik, kesiapan perusahaan mengubah alur kerja, serta kemampuan manajer menetapkan tata kelola AI yang aman.

Pertanyaan akhirnya bukan apakah AI akan masuk ke profesi akuntansi, melainkan siapa yang akan mengendalikannya. Profesional yang hanya mempertahankan pekerjaan rutin berisiko tersisih oleh otomatisasi. Sebaliknya, mereka yang mampu memadukan pemahaman standar akuntansi, penilaian etis, konteks bisnis, dan kemampuan AI akan menjadi lebih bernilai. AIxAccountancy karena itu bukan sekadar kursus gratis; ia adalah sinyal bahwa pasar kerja sedang menulis ulang definisi kompetensi profesional.

Jika AI mengambil alih sebagian pekerjaan berulang, nilai manusia justru harus naik pada wilayah yang tidak mudah diotomatisasi: penilaian, tanggung jawab, komunikasi, dan keputusan.

#ai akuntansi#audit ai#profesi akuntan#otomatisasi audit#pelatihan ai#transformasi digital#analis keuangan#singapura
Suka artikelnya?
Rizki Pratama
Tentang penulis
Rizki Pratama

Perencana Keuangan dengan 8 tahun pengalaman di pasar modal Indonesia. Fokus membantu pemula memahami reksa dana, saham IDX, dan obligasi ritel. Pendiri komunitas @FinansialPintarID.

Semua artikel dari Rizki Pratama →

Bacaan terkait

Jelajahi semua

Artikel Terkait