Beranda/Artikel/Mengapa Neraca Dagang RI Berbalik Defisit?
Finansial

Mengapa Neraca Dagang RI Berbalik Defisit?

Surplus neraca perdagangan 72 bulan berakhir setelah defisit Mei 2026 mencapai 1,61 miliar dollar AS, terutama akibat defisit migas 3,76 miliar dollar AS. Pada saat yang sama, PMI manufaktur turun ke 46,9, menandakan tekanan sektor riil dari sisi permintaan, biaya produksi, dan ketergantungan impor bahan baku.

Rizki Pratama
2 Juli 2026 · 7 min read
0 pembaca
Mengapa Neraca Dagang RI Berbalik Defisit?

Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan merupakan saran investasi. Semua keputusan investasi tetap menjadi tanggung jawab pembaca masing-masing.

Surplus 72 Bulan Berakhir, Sinyal Tekanan Sektor Riil Menguat

Neraca perdagangan barang Indonesia pada Mei 2026 mencatat defisit 1,61 miliar dollar AS. Angka ini menjadi titik balik penting karena mengakhiri surplus bulanan yang bertahan selama 72 bulan sejak Mei 2020. Defisit tersebut tidak berdiri sendiri. Pada saat hampir bersamaan, kinerja manufaktur yang tercermin dalam Purchasing Managers’ Index atau PMI turun ke zona kontraksi. Kombinasi defisit perdagangan, tekanan impor migas, kenaikan biaya produksi, serta melemahnya permintaan memberi sinyal bahwa sektor riil sedang memasuki fase yang lebih berat.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan sumber utama defisit Mei berasal dari kelompok minyak dan gas. Neraca migas mencatat defisit 3,76 miliar dollar AS, terutama akibat impor hasil minyak dan minyak mentah. Polanya berbeda dari defisit sebelum masa surplus panjang dimulai. Pada April 2020, tekanan datang dari migas dan nonmigas sekaligus. Pada Mei 2026, nonmigas masih surplus, tetapi surplus itu tidak cukup kuat menutup defisit energi. Artinya, masalah utama bukan semata pelemahan ekspor barang secara umum, melainkan beban struktural impor energi yang makin menekan neraca eksternal.

Surplus Kumulatif Menipis

Secara kumulatif Januari-Mei 2026, neraca perdagangan Indonesia masih surplus 4,03 miliar dollar AS. Namun, posisinya turun tajam dibanding periode sama 2025 yang mencapai 15,38 miliar dollar AS. Surplus nonmigas masih menjadi penopang utama dengan nilai 16,31 miliar dollar AS, tetapi angka ini juga melemah dari 23,10 miliar dollar AS pada Januari-Mei 2025. Sebaliknya, defisit migas melebar menjadi 12,28 miliar dollar AS dari defisit 7,72 miliar dollar AS setahun sebelumnya. Selisih ini menunjukkan tekanan impor energi meningkat lebih cepat dibanding kemampuan sektor nonmigas menciptakan bantalan surplus.

Pergerakan ekspor dan impor memperjelas tekanan tersebut. Selama lima bulan pertama 2026, ekspor Indonesia mencapai 115,36 miliar dollar AS, naik 3,02 persen secara tahunan. Namun, impor tumbuh jauh lebih tinggi, yakni 15,24 persen menjadi 111,33 miliar dollar AS. Kesenjangan laju pertumbuhan ini penting. Ekspor masih meningkat, tetapi kenaikan impor yang jauh lebih cepat menggerus saldo perdagangan. Dalam kondisi nilai tukar melemah atau harga energi tinggi, beban impor berpotensi makin besar karena pembayaran bahan baku, barang modal, serta migas dilakukan dalam valuta asing.

Nonmigas Masih Surplus, Tetapi Tidak Tanpa Celah

Surplus nonmigas tetap menjadi penyangga. Dari sisi komoditas, penyumbang utama surplus kumulatif Januari-Mei 2026 berasal dari lemak dan minyak hewan atau nabati senilai 13,92 miliar dollar AS, bahan bakar mineral 10,88 miliar dollar AS, serta besi dan baja 7,09 miliar dollar AS. Dari sisi negara tujuan, surplus terbesar dicatat dari perdagangan dengan Amerika Serikat sebesar 7,03 miliar dollar AS, India 5,29 miliar dollar AS, dan Filipina 3,58 miliar dollar AS. Namun, defisit besar tetap muncul dengan Tiongkok sebesar 10,17 miliar dollar AS, Australia 3,99 miliar dollar AS, dan Singapura 3,83 miliar dollar AS.

Di balik surplus nonmigas, terdapat defisit pada sejumlah kelompok barang yang berkaitan langsung dengan struktur industri. Sepanjang Januari-Mei 2026, defisit nonmigas terbesar berasal dari mesin dan peralatan mekanik atau HS 84 sebesar 12,74 miliar dollar AS. Berikutnya mesin dan perlengkapan elektrik atau HS 85 sebesar 6,23 miliar dollar AS, plastik dan barang dari plastik atau HS 39 sebesar 3,74 miliar dollar AS, serelia atau HS 10 sebesar 1,62 miliar dollar AS, serta kendaraan udara dan bagiannya atau HS 88 sebesar 1,56 miliar dollar AS. Khusus Mei 2026, defisit nonmigas terbesar juga berasal dari mesin mekanik 2,87 miliar dollar AS, mesin elektrik 1,28 miliar dollar AS, serta plastik dan barang dari plastik 940 juta dollar AS.

Komposisi tersebut menunjukkan industri domestik masih sangat bergantung pada barang modal, peralatan produksi, bahan baku, serta bahan penolong impor. Ketergantungan ini tidak selalu negatif karena impor mesin dapat mencerminkan investasi dan ekspansi kapasitas. Namun, ketika terjadi bersamaan dengan pelemahan rupiah, kenaikan harga input, dan permintaan yang menurun, kandungan impor tinggi berubah menjadi sumber tekanan biaya. Dampaknya, pelemahan nilai tukar lebih cepat terasa sebagai kenaikan biaya produksi daripada dorongan daya saing ekspor.

PMI Jatuh ke Zona Kontraksi

Tekanan perdagangan muncul beriringan dengan pelemahan manufaktur. Laporan S&P Global mencatat PMI Manufaktur Indonesia pada Juni 2026 berada di level 46,9, turun dari 50,0 pada Mei. Nilai di bawah 50 menandakan kontraksi aktivitas. Penurunan ini menjadi kontraksi terdalam dalam setahun terakhir serta pelemahan kedua dalam tiga bulan. Penyebab utamanya ialah turunnya pesanan baru, baik dari pasar domestik maupun ekspor. Akibatnya, perusahaan mengurangi produksi, menekan pembelian bahan baku, menurunkan persediaan, bahkan mengurangi penyerapan tenaga kerja.

Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti menilai penyusutan pesanan baru membuat volume produksi melemah lebih dalam. Perusahaan merespons dengan mengurangi tenaga kerja dan aktivitas pembelian karena permintaan tidak cukup kuat. Pada saat yang sama, biaya produksi melonjak akibat harga bahan baku yang lebih tinggi serta pelemahan nilai tukar. Inflasi harga input tercatat sebagai yang tertinggi kedua sejak survei PMI dimulai pada 2011. Tekanan tersebut kemudian mendorong kenaikan harga jual pabrik paling tajam dalam hampir 13 tahun. Dengan kata lain, industri menghadapi tekanan ganda: permintaan melemah, biaya meningkat.

Energi Menjadi Titik Kritis Industri

Kementerian Perindustrian melihat pelemahan PMI sebagai tantangan daya saing yang harus dijawab melalui kebijakan biaya produksi. Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief menekankan bahwa tekanan Juni terutama datang dari permintaan yang melemah dan biaya produksi yang meningkat. Salah satu instrumen yang dianggap penting ialah Harga Gas Bumi Tertentu atau HGBT. Kebijakan ini diarahkan untuk menekan biaya energi bagi sektor industri yang memakai gas sebagai bahan baku atau sumber energi utama. Pemerintah juga menurunkan harga gas alam cair hasil regasifikasi untuk industri menjadi 13 dollar AS per MMBTU dari sebelumnya sekitar 20-23 dollar AS per MMBTU. Tujuannya jelas: menjaga daya saing, menahan risiko PHK, dan membantu PMI kembali ke jalur ekspansi.

Namun, persoalan energi tidak berhenti pada gas industri. Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Indef Andry Satrio Nugroho menilai defisit perdagangan Mei mencerminkan masalah mendasar ketahanan energi nasional. Produksi minyak domestik hanya mencukupi sekitar 40 persen kebutuhan dalam negeri. Indonesia telah menjadi pengimpor bersih minyak sejak 2004. Dengan lifting sekitar 576.000 barel per hari, kebutuhan BBM yang mencapai sekitar 1,4 juta-1,7 juta barel per hari harus ditutup lewat impor. Karena itu, neraca migas sangat sensitif terhadap harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah.

Tekanan migas berpotensi mereda jika penurunan harga minyak global mulai tercermin dalam data perdagangan berikutnya. Harga minyak dunia disebut turun dari sekitar 104 dollar AS per barel pada April menjadi sekitar 83 dollar AS per barel pada Juni. Dalam jangka pendek, percepatan biodiesel B40 menuju B50 dapat membantu menekan impor solar. Namun, kebijakan ini memerlukan kalkulasi cermat karena minyak sawit mentah juga merupakan sumber devisa ekspor penting. Jika terlalu banyak CPO dialihkan ke pasar domestik, penerimaan ekspor berpotensi berkurang. Kebijakan energi karena itu harus menyeimbangkan penghematan impor, stabilitas harga, dan penerimaan devisa.

Biaya Produksi, Daya Beli, dan Risiko Semester Kedua

Pelemahan manufaktur juga dipengaruhi tekanan biaya di dalam negeri. Penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada Juni, termasuk kenaikan harga Pertamax sekitar 32 persen, ikut mendorong inflasi transportasi menjadi 2,29 persen. Indeks Harga Perdagangan Besar naik 6,51 persen, sedangkan indeks sektor konstruksi meningkat 8,68 persen. Kenaikan biaya logistik, energi, bahan baku, dan barang modal mempersempit ruang pelaku industri untuk menjaga margin. Jika seluruh kenaikan biaya diteruskan ke konsumen, permintaan dapat makin melemah. Jika ditahan, profitabilitas dan kapasitas investasi industri menurun.

Karena itu, agenda kebijakan perlu dipertajam. Substitusi impor tidak dapat dilakukan secara seragam. Untuk plastik, penguatan petrokimia domestik menjadi penting agar bahan baku tersedia di dalam negeri. Untuk mesin industri, peningkatan tingkat komponen dalam negeri perlu diarahkan pada sektor yang telah memiliki kapasitas produksi nyata, bukan sekadar kewajiban administratif. Pemerintah juga perlu menjaga daya beli masyarakat agar permintaan domestik tetap menjadi jangkar manufaktur. Kepastian regulasi, stabilitas biaya energi, kelancaran pasokan bahan baku, serta pengelolaan nilai tukar menjadi faktor kunci agar dunia usaha kembali berani meningkatkan produksi dan investasi.

Berakhirnya surplus 72 bulan bukan sekadar peristiwa statistik. Defisit Mei 2026 memperlihatkan rapuhnya neraca perdagangan saat impor energi melonjak, sementara kontraksi PMI menunjukkan sektor riil mulai merasakan tekanan permintaan dan biaya secara bersamaan. Walau nonmigas masih surplus dan optimisme pelaku industri untuk 12 bulan ke depan disebut membaik, risiko perlambatan pada semester kedua tetap besar. Indikator yang perlu dipantau ialah PMI Juli-Agustus, harga minyak, kurs rupiah, daya beli rumah tangga, serta efektivitas kebijakan penurunan biaya produksi. Jika respons kebijakan tepat, defisit bisa menjadi peringatan dini. Jika lambat, tekanan migas dan manufaktur dapat berubah menjadi perlambatan ekonomi yang lebih luas.

#neraca dagang#defisit perdagangan#impor migas#surplus nonmigas#ekonomi indonesia#sektor riil#pmi manufaktur#ekspor impor
Suka artikelnya?
Rizki Pratama
Tentang penulis
Rizki Pratama

Perencana Keuangan dengan 8 tahun pengalaman di pasar modal Indonesia. Fokus membantu pemula memahami reksa dana, saham IDX, dan obligasi ritel. Pendiri komunitas @FinansialPintarID.

Semua artikel dari Rizki Pratama

Bacaan terkait

Jelajahi semua